Notification

×

Kategori Berita

Cari Artikel

Iklan 1

Iklan 2

Studi Kasus SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

Wednesday, December 1, 2021 | 12/01/2021 WIB
1. Studi Kasus SD Kelas Rendah

Bu Warna dan Bu Warni adalah guru-guru kelas 1 di Sekolah Dasar Tunas Harapan. Bu Warna sangat mendukung kebijakan internasional bahwa berdasarkan kajian Psikologi Perkembangan, peserta didik baru dapat  belajar membaca secara formal mulai kelas 1 Sekolah Dasar. Jadi peserta didik kelas 1 SD belum ada tuntutan berliterasi. Bu Warni justru menganggap ketika masuk ke jenjang SD kelas 1 peserta didik seharusnya sudah dapat membaca. Bahkan, Bu Warni menunjukkan bahwa di situs Pusmenjar tentang Asesmen Kompetensi Minimal (https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/), salah satu tuntutan kompetensi di kelas 1 dan 2 adalah: Menemukan informasi tersurat (siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) pada teks sastra atau teks informasi yang terus meningkat sesuai jenjangnya.

2. Studi Kasus SD Kelas Tinggi

Pak Amal adalah guru SD kelas 5 di kabupaten X. Meskipun Ia senang mengajarkan mapel Bahasa Indonesia, Pak Amal tetap beranggapan bahwa semua mata pelajaran lainnya harus dapat ikut andil menguatkan literasi. Bagaimana pendapat Bapak Ibu Guru mengenai pendapat Pak Amal? Bagaimana contoh pembelajaran yang ideal untuk dilaksanakan  Pak Amal jika ingin mengajak kerjasama guru dari semua guru kelas dan guru  mapel, untuk menguatkan literasi?

Studi Kasus SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi


Pembahasan Studi Kasus SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

Oleh: SULISTIYANI, S.Pd - Wednesday, 1 December 2021, 9:28 AM

Setelah membaca dan memahami 2 kasus di atas, menurut saya :

1. Studi kasus kelas rendah

Pada anak usia kelas rendah, keterampilan literasi yang harus dikuasai anak adalah berbahasa dengan lisan. Literasi memang harus dikenalkan namun tidak dengan cara lancar membaca. Anak-anak harus lebih dulu memahami dan menangkap pesan secara lisan baik tentang dirinya maupun tentang lingkungannya.

2. Studi kasus kelas tinggi

Keterampilan literasi anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru mapel Bahasa Indonesia saja, namun berbagai mata pelajaran lain juga harus turut andil. Strategi pembelajaran yang bervariatif dan saling berkaitan hendaknya dilaksanakan dengan menyenangkan. Misalnya ketika berolahraga, anak-anak bisa terlibat dalam membuat laporan tentang jumlah data hasil Sit Up atau Push Up teman-temannya, atau mencatat waktu lari yang ditempuh teman-temannya. Dari hal itu tanpa disadari pelajaran olahraga juga mendukung keterampilan literasi anak.

Oleh : TEGUH SLAMET SANTOSO - Wednesday, 1 December 2021, 9:24 AM

Dari kasus 1 dan 2 maka, menurut saya :

1. Studi Kasus SD Kelas Rendah/ kls 1 SD

Saya sependapat dengan pemahaman Bu Warni, siswa kelas 1 penerapan konsep literasi layak dilakukan  namun dengan cara lisan dan pengenalan huruf,  literasi yang digunakan adalah literasi dasar dan menyenangkan seperti pengenalan benda sekitar, diri, lingkungan sekolah, keluarga, teman sekelas dan lain-lain

2. Studi Kasus SD Kelas Tinggi/ kls 5 SD

Pada siswa kelas atas, kelas 5 SD sudah selayaknya menerapkan kegiatan  literasi karena siswa SD kelas 5 sudah memiliki bekal pelajaran sebagai bahan literasi.  Semua mata pelajaran sebaiknya memang menerapkan liteasi maka Kerjasama semua guru sebgai solusi dalam mensukseskan literasi disekolah tempatnya mengajar