Notification

×

Kategori Berita

Cari Artikel

Iklan 1

Iklan 2

Rasional yang Mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di Jenjang PAUD

Friday, December 17, 2021 | 12/17/2021 WIB
Masbabal.COM - Beberapa rasional yang mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di Jenjang PAUD di antaranya adalah:

PERTAMA, memberikan lebih banyak ruang kemerdekaan bagi satuan PAUD untuk menetapkan kebutuhan pengajaran dan pembelajaran.

Kebutuhan belajar mengajar PAUD harus didasarkan pada kebutuhan anak. Ini membutuhkan pertimbangan kemampuan fisik, sosial, moral, linguistik dan kognitif anak dan penyediaan berbagai lingkungan yang menantang dengan dukungan pendidik ke tiap anak yang memadai untuk memastikan potensi belajar anak terwujud.

Lingkungan PAUD perlu ramah dan dekat dengan anak agar is merasa cukup percaya did untuk dapat bermain dan menjelajah di dalamnya. Ini berarti pertimbangan hams diberikan pada konteks sosial dan budaya anak dan sumber daya yang tersedia.

Orang tua/wali juga harus dilibatkan dalam kegiatan PAUD, sehingga mereka dapat mendukung pembelajaran anak tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka serta anak dapat memperluas eksplorasi.

Pertimbangan juga hares diberikan pada sumber daya ekonomi dan masyarakat yang mungkin tersedia di lingkungan rumah dan PAUD untuk dapat memberikan dukungan yang memadai.

Beragamnya sosial budaya ekonomi dan sumber daya masyarakat Indonesia adalah sinyal bahwa penjabaran mengenai apa yang perlu dipelajari di satuan PAUD harus tetap menyediakan ruang kemerdekaan bagi satuan pendidikan dan ekosistemnya untuk menentukan bagaimana mereka akan menggunakan sumber dayanya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Capaian Pembelajaran jenjang PAUD hanya menjabarkan capaian yang diharapkan terjadi di akhir pembelajaran di satuan PAUD dan untuk anak selanjutnya memasuki jenjang Pendidikan Sekolah Dasar, sehingga tidak preskriptif (secara mengikat memberikan ketentuan baku) membatasi ragam laju dan kebutuhan anak dalam belajar berdasarkan usia (unik dan tidak dapat dibandingkan sate dengan yang lainnya) - dan juga tidak preskriptif membatasi rangkaian pembelajaran yang dapat dilakukan satuan.

KEDUA, Menguatkan transisi PAUD-SD.

Kesinambungan pembelajaran di PAUD dan sekolah dasar, adalah peran kunci mengingat periode anak usia dini sebetulnya adalah sejak usia 0-8 tahun (Shonkoff et al, 2016).

Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD berupaya untuk menempatkan kurikulurn PAUD dan sekolah dasar dalam satu lajur pembelajaran (learning progression) sehingga ujung capaian kurikulum adalah titik berangkat di kelas 1 sekolah dasar. Hal ini yang diharapkan akan mendukung kesiapan anak dalam bersekolah.

Kesiapan Bersekolah dimaknai sebagai hadirnya hasil interaksi dari tiga dimensi : peserta didik yang siap (ready children), keluarga siap (ready family), dan sekolah yang siap (ready school) (UNICEF, 2012). Sesuai dengan teori Brofenbrenner (1979 dan 1989), ketiga dimensi ini berada dalam sebuah ekosistem besar yang dipengaruhi oleh nilai budaya serta kerangka kebijakan yang berlaku.

Kesiapan bersekolah merupakan kondisi yang terus dibangun berdasarkan keinitraan antara satuan PAUD, keluarga, sekolah dasar kelas rendah. Komponen penting dari kesiapan bersekolah yang dapat didukung satuan PAUD diantaranya adalah: 
  • Kematangan emosi yang cukup untuk mengatasi masalahnya sehari-hari
  • Keterampilan sosial yang memadai untuk berinteraksi sehat dengan teman sebaya
  • Kematangan kognitif yang cukup untuk berkonsentrasi saat bermain-belajar
  • Pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri yang memadai untuk dapat berpartisipasi di lingkungan sekolah secara mandiri.
Keterampilan umum ini dipelajari di lingkungan di mana anak-anak memiliki kesempatan untuk berinteraksi, di mama ada masalah-masalah yang perlu mereka selesaikan ketika berinteraksi dengan teman.

Pendidik juga perlu siap mendukung anak-anak untuk terlibat dengan baik dengan orang lain, menyelesaikan perselisihan sccara konstruktif, dan mengelola emosi mereka. Pendidik juga perlu mcngajari anak can mendengarkan dengan cermat, dan memberikan stimulus untuk membangun konsentrasi dan keterampilan mengingat anak untuk mendukung kesiapan bersekolah.

KETIGA, Menguatkan artikulasi penanaman dasar-dasar literasi dan STEAM sejak jenjang PAUD.

Literasi dan numerasi dasar tersirat di dalam kurikulum terdahulu namun dalam pelaksanaannya, masih ada satuan yang menghindari penggunaan aspek pembelajaran ini ditengarai karena kekhawatiran terjadinya schoolification (anak belajar secara klasikal di mana fokus lebih ke muatan pembelajaran di ruangan kelas dalam waktu lama dengan kertas dan pensil), sementara penting dalam pembelajarannya anak usia dini untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan. STEAM dihadirkan di PAUD sebagai paradigma berpikir (mindset) dan didukung muatan pembelajaran (learning content) yang melibatkan keingintahuan, perhatian, pemecahan masalah dan keberanian menghadapi tantangan (resiko) dalam proses belajarnya.

STEAM adalah akronim dari Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Kerelcayasaan), Art (Seni), dan Mathematics (Matematika). 

Literasi dan STEAM disini tidaklah diartikan sebagai pembelajaran mata pelajaran atau keharusan membaca, menulis, atau berhitung karena semua pendidikan di PAUD kembali pada prinsip berpusat pada kebutuhan anak dan tidak ke arah schoolification.

Hal yang diperlukan adalah pemahaman yang meluas di PAUD dan komunitas orang tua tentang seperti apa perkembangan literasi dini dan STEAM dalam PAUD seharusnya, yang mencakup pengembangan:
  • Kemahiran bahasa yang memadai seperti dapat berpartisipasi dalam percakapan sehari-hari, dan juga menjelaskan secara rinci, berbagai peristiwa yang dekat dengan kehidupan anak, mendengarkan secara efektif, merespon dengan tepat dan berkomunikasi dengan jelas;
  • Kecintaan pada buku, yang dipupuk dengan mendengarkan berbagai cerita sederhana dan menarik serta teks infonnasi yang dibacakan dengan lantang dan mendorong anak untuk mengekspresikan tanggapan mereka
  • Pengalaman langsung yang memadai dalam menghitung berbagai jenis jumlah kecil, menyortir objek yang berbeda dengan cara yang berbeda, menggunakan bahasa matematika untuk mengidentifikasi objek yang panjang, pendek, berat, ringan, penuh, kosong, cepat, lambat, dan juga untuk menjelaskan beberapa bentuk sederhana di lingkungan mereka; dan
  • Pengalaman yang cukup dalam mengeksplorasi berbagai elemen lingkungan alam mereka serta alat-alat sederhana, teknologi dan bahan konstruksi agar mereka terbiasa dan mampu menggambarkan pengakunan mereka dan apa yang telah mereka pelajari.
Keterampilan awal ini dikembangkan melalui kegiatan belajar-bermain dengan tetap memperhatikan keunikan anak. Setiap anak akan memiliki minat yang berbeda dan tingkat keterampilan yang berbeda dan pendidik perlu mengenali dan menanggapi hal ini. Keterampilan keaksaraan awal PAUD hams fokus pada pengembangan keterampilan bahasa lisan.

Anak perlu meningkatkan perbendaharaan kata dan keterampilan berbicara dan menyimak mereka dengan terlibat dalam percakapan dengan pendidik dan orangtua/ wali. Percakapan ini untuk meningkatkan kualitas bahasa lisan reseptif dan ekspresif anak.

Demikian pula, keterampilan matematika awal membutuhkan pendidik untuk terlibat dalam percakapan dengan setiap anak di mana mereka membantu anak untuk memahami dan menggunakan beberapa ide dan bahasa matematika sederhana yang berlaku untuk kegiatan bermain mereka.

Pengalaman sains, teknologi, dan kerekayasaan yang sesuai untuk anak-anak di PAUD memerlukan penyediaan materi untuk dimainkan oleh anak yang merangsang eksplorasi mereka. Setiap elemen lingkungan alam yang menjadi bagian dari PAUD dapat menjadi stimulus untuk mendorong anak berpikir sccara ilmiah.

Rasional yang Mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di Jenjang PAUD


Perangkat mekanis sederhana yang dapat digunakan anak untuk bermain dengan aman, atau bahan yang dapat mereka gunakan untuk konstruksi memungkinkan anak untuk mengeksplorasi elemen teknologi dan kerekayasaan. Peran pendidik, sekali lagi, untuk terlibat dalam percakapan empat mats dcngan setiap anak, setiap hari mencari tahu apa yang sedang dieksplorasi oleh anak, apa yang membuat mereka penasaran dan menanyakan jenis pertanyaan yang akan mendorong anak untuk mengeksplorasi lebih banyak dan memikirkan tentang hasilnya.

Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD secara spesifik mengartikulasikan dasar-dasar literasi dan STEAM sebagai bagian dari elemen capaian pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan bennain-belajar, sehingga menjadi aspek perkembangan yang secara eksplisit perlu dikawal melalui metodc yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.

Dasar-dasar literasi dan STEAM dimaksudkan dibangun sebagai sarana anak mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif, memecahkan masalah, berpikir, bernalar secara fleksibel, yang membantu anak lebih siap belajar dan sekolah.

KEEMPAT, Lebih memberikan pijakan bagi anak untuk memahami jati dirinya dan dunia.

Hasil pembelajaran di PAUD menekankan pentingnya membantu anak-anak untuk memahami dan bangga akan identitas mereka, dan untuk memperkuat pemahaman mereka tentang dunia dimulai dengan  menjelajahi lingkungan sekitarnya.

Anak-anak membutuhkan kepercayaan diri dan kepercayaan pada kemarnpuan mereka untuk secara efektif menjelajahi dan belajar tentang dunia mereka. Mereka perlu merasa bangga dengan siapa mereka, budaya asal mereka, penampilan dan cara hidup mereka. Pendidik perlu mendukung anak-anak untuk mengembangkan identitas yang !mat dan positif dengan menghormati dan menyambut masing-masing keunikan anak serta latar belakang sosial dan budaya mereka.

Relevansi PAUD sangat ditentukan oleh manfaat yang dirasakan secara konkret oleh keluarga dan anak. Keluarga perlu melihat jejak dampak dari partisipasi anaknya di PAUD (Smith, 1996), karenanya tujuan dari setiap pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman anak sehari-hari dan kontekstual (selaras dengan nilai sosial budaya lingkungan) sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari lingicungannya serta meningkatkan kompetensi dirinya untuk dapat bcrperan dalam kegiatan sehari-hari.

Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD secara spesifik menyerukan pentingnya mendampingi anak dalam menemukan jati dirinya, serta menguatkan pemahamannya terhadap dunia melalui eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.