Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Media Komunikasi Yang Banyak Digunakan Dalam PJJ Daring

Proses Pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) merupakan metode PJJ yang terdiri dari kegiatan (1) tatap muka virtual dalam bentuk video conference, video call, teleconference, dan atau diskusi dalam grup di media sosial atau aplikasi pesan instan; (2) menggunakan Learning Management System (LMS).

Aktivitas pembelajaran yang dilakukan melalui LMS antara lain: pemberian materi belajar, pemberian dan pengumpulan tugas, konsultasi, umpan balik tugas, evaluasi pembelajaran (Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2020).

Media Komunikasi Yang Banyak Digunakan Dalam PJJ Daring

Media Komunikasi PJJ Daring

Sebelum masa pandemi covid-19, jika kita membicarakan e-learning, pembelajaran jarak jauh, atau pembelajaran daring, maka berasosiasi sangat erat dengan penggunaan Learning Management System (LMS) seperti moodle, google classroom atau Edmodo. LMS lebih difungsikan sebagai media komunikasi asynchrounus yang digunakan untuk mengelola pembelajaran secara daring, antara lain manajemen materi, proses dan evaluasi pembelajaran serta mengelola tugas dan ujian (Fahmi & Cipta, 2020).

Untuk dapat menggunakan moodle, maka sekolah harus menginstall aplikasi ini pada server atau hosting yang dimiliki oleh sekolah. Moodle memiliki fitur yang sangat lengkap yang dibutuh dalam pelaksanaan PJJ daring, tetapi dibutuhkan keahlian yang baik untuk maintenance dan penggunaannya serta infrastruktur yang memadai.

Sehingga sekolah dan pendidik yang belum pernah mengimplementasikan moodle, akan sulit mengadopsinya dalam waktu singkat untuk digunakan dalam pembelajaran dari di masa pandemi covid-19.

Berbeda dengan moodle, google classroom dan edmodo adalah aplikasi berbasis cloud yang dapat digunakan secara langsung oleh pendidik tanpa perlu proses installasi. Pendidik dan peserta pendidik cukup mendaftarkan diri atau membuat akun (sign up) melalui website. Kedua aplikasi ini juga lebih user friendly sehingga lebih mudah digunakan. Kekurangannya, pihak sekolah tidak dapat memantau proses pembelajaran yang terjadi seperti yang dapat dilakukan pada moodle. Selain itu LMS tidak dapat secara interaktif dalam berkomunikasi.

Sehingga pada awal pembelajaran, mayoritas pendidik akan membuat Whatsapp Group (WAG) yang beranggotakan peserta pendidik, jika peserta pendidik sudah memungkinkan untuk menggunakan HP sendiri. Untuk sekolah dasar, maka anggota WAG biasanya adalah orang tua peserta pendidik. Setelah itu komunikasi dan aktivitas pembelajaran dilakukan di dalam WAG tersebut.

Komunikasi yang dilakukan melalui WAG lebih banyak dalam bentuk asynchronous antara lain berinteraksi, diskusi grup dan menyampaikan pengumuman dan informasi melalui pesan teks. WA juga digunakan untuk memberikan materi melalui pesan suara dan menu berbagi file (gambar, video atau dokumen).

Pendidik juga dapat memberikan penugasan melalui pesan teks berisi tugas yang harus dikerjakan disertai intruksi pengerjaan. Kebanyakan pendidik memberikan materi dan tugas sesuai dengan kurikulum dan jadwal pelajaran yang sudah ditentukan diawal tahun ajaran.

Alternatif lain, pendidik biasanya menambahkan external link yang mengarahkan peserta pendidik pada materi yang tersimpan di google drive atau youtube. Pendidik sebelumnya telah membuat materi berupa file yang diupload ke google drive.

Beberapa pendidik membuat materi berupa video yang dapat dilihat di youtube. Sedangkan dalam melakukan assessment atau evaluasi pembelajaran biasanya pendidik membuat penugasan atau membuat soal yang dikirim melalui WA, kemudian peserta pendidik mengerjakan di buku tulis masing-masing. Hasilnya di foto dan dikirim melalui WA atau melalui google form, google classroom, moodle, Edmodo, atau email.

Metode lain yang banyak diterapka dalam penugasan atau evaluasi belajar, pendidik membuat kuis menggunakan fitur kuis yang ada pada LMS seperti moodle, google classroom atau Edmodo. Beberapa pendidik juga membuat kuis yang lebih interaktif dan menarik dengan aplikasi quizziz. Aplikasi ini menerapkan konsep gamifikasi kuis sehingga dalam mengerjakan soal peserta pendidik seperti sedang bermain game.

Metode pembelajaran seperti ini sangat menuntut kemandirian peserta pendidik dalam belajar. Peserta pendidik harus aktif membaca, melihat video dan mengerjakan tugas. Selain itu peran orang tua/wali juga menjadi sangat sentral, terutama pada level pendidikan tingkat dasar. Orang tua harus mampu manggantikan peran pendidik untuk menjelaskan seluruh materi pelajaran mulai dari Bahasa Indonesia, matematika, Bahasa inggris, PJOK, Bahasa daerah, kesenian, TIK, dan masih banyak lagi. Dimana pelajaran tersebut biasanya diajarkan oleh beberapa pendidik. Orang tua juga harus berkomunikasi melalui grup WA dengan pendidik.

Maka tidak heran jika penelitian yang dilakukan Mirzon Daheri, dkk. menyimpulkan bahwa mayoritas (41,2%) orang tua meyakini bahwa pembelajaran menggunakan Whatsapp tidak efektif, sedangkan 33,3% orang tua meragukan efektifitasnya (Daheri et al., 2020).

Meskipun demikian, WA tetap menjadi pilihan utama pendidik dan peserta didik dalam melakukan komunikasi dan interaksi. Karena WA mudah digunakan sehingga pendidik tidak perlu menjelaskan lagi cara penggunaan WA kepada peserta pendidik dan orang tua/wali. Hal ini tidak terlepas dari popularitas WA yang sangat tinggi, dimana WA merupakan salah satu media sosial dengan pengguna global sebanyak 2 miliar orang. Sedangkan pengguna aktif di Indonesia sebanyak 84% dari 175,4 juta pengguna internet di Indonesia (Kemp, 2020).

Bahkan bermedia melalui WAG sudah menjadi gaya hidup dan ritual baru yang tidak dapat ditinggalkan untuk meningkatkan eksistensi dan mengisi waktu luang (Setiyaningsih & Jatmikowati, 2019).

Selain itu dari sisi biaya, WA juga relatif lebih murah karena tidak membutuhkan kuota yang besar. Sebenarnya sekolah dalam hal ini pendidik dapat memanfaatkan pendekatan pembelajaran daring yang lebih humanis dengan menggunakan media komunikasi synchronous seperti zoom meeting, google meet, Microsoft team, atau juga menggunakan WA melalui live chat atau video call/video conference. Aplikasiaplikasi tersebut awalnya didesain untuk melakukan rapat online, tetapi pada masa pandemi covid-19, banyak pendidik dan lembaga pendidikan memanfaatkannya untuk melakukan pembelajaran dan webinar.

Baca juga : Tahapan pembelajaran dalam e-learning menggunakan komunikasi hybrid