Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Definisi Bahasa Pertama Anak Usia Dini

Definisi Bahasa Pertama Anak Usia Dini - Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa melepaskan diri dari bahasa. Melalui bahasa manusia bisa bergaul sesama manusia di muka bumi ini.  Pakar linguistik deskriptif mendefinisikan bahasa sebagai “satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer,” yang kemudian lazim ditambah dengan “yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri.”

Bagian pertama definisi di atas menyatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem, sama dengan sistem-sistem lain, yang sekaligus bersifat sistematis. Bahasa itu bukan merupakan satu sistem tunggal melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem (subsistem fonilogi, sintaksis, dan leksikon). Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang.

Definisi Bahasa Pertama Anak Usia Dini

Gambar oleh Mahesh Patel dari Pixabay

Sistem lambang bahasa ini berupa bunyi, bukan gambar atau tanda lain. bunyi tersebut adalah bunyi bahasa yang dilahirkan alat ucap manusia. Sistem lambang bahasa arbitrer artinya lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya. Bagian pertama dari definisi di atas juga menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, maupun wacana memiliki makna tertentu,yang bisa saja berubah pada satu waktu tertentu atau juga tidak berubah sama sekali (Chaer, 2009:30-31).

Bagian tambahan dari definisi di atas menyiratkan fungsi bahasa dilihat dari segi sosial, yaitu bahwa bahasa itu adalah alat interaksi atau alat komunikasi di dalam masyarakat (Chaer, 2009:31).

Menurut Yusuf dan Nani dalam Fadillah (2012:46) bahasa didefinisikan sebagai sarana komunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang, gambar atau lukisan. Sedangkan Tarmansyah dalam Sardjono (2005:5) menyatakan bahwa hakekat bahasa pada prinsipnya meliputi kemampuan pengungkapan, pemahaman, ingatan serta sikap moral dalam kaitannya dengan keterampilan berbahasa. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan menangkap simbol, mengungkapkan kalimat, pemahaman dan keterampilan berbahasa baik pasif maupun aktif serta penggunaan kata-kata yang tepat dan terstruktur.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan.

Pemerolehan bahasa anak merupakan proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada pemerolehan bahasa tersebut, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Anak akan mengucapkan kata-kata untuk keperluan komunikasinya dengan orangtua atau kerabat dekatnya.

Suyadi (2010:97) menyatakan bahwa bayi memperoleh bahasa sejak beberapa bulan pertama, jauh sebelum mereka dapat mengatakan kata pertama. Ada beberapa indikasi bahwa bayi sangat merespon suara (child-directed speech).

Hal ini sering disebut dengan “bahasa ibu dan bahasa ayah” yang dikarekteristikkan dengan intonasi dan irama yang unik, seperti orangtua berbicara dengan anak-anak mereka. Oleh karena itu, bahasa rumah sering kali disebut sebagai bahasa pertama bagi anak-anak, sedangkan bahasa sekolah sering diidentikkan dengan bahasa kedua.

Menurut paparan di atas dapat disimpulakan bahwa bahasa pertama anak adalah bahasa yang pertama kali dikuasai oleh anak. Anak yang semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa yaitu bahasa yang digunakan oleh ayah, ibu atau bahasa yang terdapat di lingkungan anak. Bahasa pertama merupakan dasar bagi anak untuk memperoleh bahasa kedua dan seterusnya.

Bahasa pertama juga merupakan bahasa seumur hidup, karena bahasa pertama akan digunakan seseorang dari pertama ia dilahirkan sampai akhir kehidupannya.

Berlangganan via Email