Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Water Erosion Prediction Project (WEPP)

Aplikasi model tersebut untuk areal berlereng (hillslope) atau profil lanskap memberikan beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi prediksi erosi yang ada. Kelebihan yang paling nyata adalah meliputi kemampuan untuk mengestimasi spatial dan temporal kehilangan tanah (kehilangan tanah netto untuk keseluruhan areal berlereng atau untuk setiap titik pada lereng dapat diestimasi secara harian, bulanan, atau rata-rata tahunan).
Water Erosion Prediction Project (WEPP)

Selain dari pada itu, oleh karena model ini berbasis proses maka ia dapat diekstrapolasi ke kondisi yang luas ragamnya yang mungkin tidak praktis atau ekonomis jika dilakukan uji lapangan. Aplikasinya untuk daerah aliran sungai (DAS) memungkinkan estimasi hasil sedimen dari seluruh lapangan. Model WEPP adalah program komputer untuk simulasi secara terus menerus yang menghitung aliran permukaan dan erosi (Arsyad, 2012).

Water Erosion Prediction Project (WEPP)
Model WEPP menghitung kehilangan tanah sepanjang suatu lereng dan hasil sedimen yang terdapat di ujung bawah lereng tersebut. Erosi tanah pada areal berlereng dinyatakan dalam dua komponen, yaitu pelepasan butir-butir tanah oleh aliran permukaan dangkal, yang dikenal dengan komponen erosi antara alur (interrill erosion) dan pelepasan butir-butir tanah oleh tegangan geser (shear stress) serta pengangkutan oleh aliran terkonsentrasi yang dikenal dengan komponen erosi alur (rill erosion). Model WEPP terdiri atas komponenkomponen pengolahan unsur iklim, irigasi, infiltrasi, hidrolika aliran permukaan, neraca air pertumbuhan tanaman, berbagai parameter tanah yang mempengaruhi hidrologi, dekomposisi sisa-sisa tumbuhan, erosi dan pengendapan tanah (Arsyad, 2012).

WEPP menghitung nilai-nilai baru karakteristik tanah, permukaan tanah, dan kondisi tanaman berbasis harian. Jika tidak terjadi hujan, proses akan dilanjutkan untuk kondisi hari berikutnya. Jika terjadi hujan, WEPP menentukan apakah aliran terjadi aliran permukaan berdasarkan laju infiltrasi dan distribusi hujan. Jika terjadi aliran permukaan, WEPP akan menghitung volume dan laju aliran dan waktu kejadiannya. Selanjutnya aliran yang terjadi digunakan untuk memprediksi pelepasan material dan angkutan sedimen ke sistem saluran (Suripin, 2002).

Komponen dalam WEPP
WEPP merupakan bentuk pengembangan simulasi pendugaan erosi yang memperbaiki model sebelumnya yaitu model USLE. Model WEPP memiliki berbagai keunggulan dibanding model USLE maupun RUSLE, antara lain bahwa nisbah kehilangan tanah dapat ditaksir secara spasial sepanjang profil (lahan) dan juga dapat menaksir besarnya sedimen yang terangkut. Selain itu limpasan permukaan dan sedimen dapat diduga tiap terjadinya hujan, sehingga bisa menghasilkan analisa sementara yang mendetail beserta penyebarannya.

Komponen penting dalam WEPP meliputi manajemen tanaman, tanah, dan kelerengan. Perbedaan mendasar antara model WEPP dan model USLE adalah pada komponen manajemen tanaman. Informasi manajemen tanaman yang digunakan sebagai input simulasi WEPP lebih mendetail dari tahap persiapan lahan sampai pemanenan tanaman. Informasi penggunaan lahan secara mendetail menjadi keunggulan dari model simulasi WEPP. Model WEPP juga mampu memprediksi lahan pertanian, lahan hutan, lahan pertumbuhan jarang, dan jalan.

Data kelerengan untuk menunjang kelengkapan pengolahan simulasi adalah kemiringan lereng (%) dan panjang lereng (m). Erodibilitas tanah dalam model WEPP hanya memperhitungkan area yang terpengaruh erosi lembar dan erosi alur. Komponen tanah terdiri dari albedo, kedalaman tanah, % debu, % pasir, % lempung, % bahan organik, % batuan, dan kapasitas pertukaran kation.

Nilai albedo lebih berpengaruh terhadap prediksi erosi jangka panjang. Semakin kecil nilai albedo akan memperbesar proses evapotranspirasi akibat dari bertambahnya radiasi yang mencapai permukaan tanah.

Albedo merupakan faktor pengendali yang penting bagi pertukaran energi antara permukaan Bumi dan atmosfer dari perbandingan antara intensitas cahaya yang diterima dari Matahari dengan yang dipantulkan oleh permukaan planet. Perubahan albedo menggambarkan adanya perubahan penggunaan lahan yang secara langsung berpengaruh terhadap perubahan kesetimbangan energi, kesetimbangan hidrologi, dan kondisi iklim dekat permukaan tanah (Sansakila, 2015).


Berlangganan via Email