Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aspek-aspek Keterampilan Berbicara

Aspek-aspek Keterampilan Berbicara - Menurut Hurlock (1988:185-189) berbicara mencakup tiga proses terpisah tetapi saling berkaitan satu sama lain, yaitu sebagai berikut:

1. Pengucapan

Tugas utama dalam belajar bahasa adalah belajar mengucapkan kata. Pengucapan (pronunciation) dipelajari dengan meniru. Sebenarnya anak hanya “memungut” pengucapan kata dari orang yang berhubungan dengan mereka. Keseluruhan pola pengucapan anak akan berubah dengan cepat jika anak ditempatkan dalam lingkungan baru yang orang-orang di lingkungan tersebut mengucapkan kata-kata yang berbeda. Jika anak mempelajari pengucapan yang betul, kemudian merasa senang, maka mereka akan dapat “berbicara seperti dengan bahasa ibu”.

Aspek-aspek Keterampilan Berbicara

Setiap anak berbeda-beda dalam ketepatan pengucapan dan logatnya. Perbedaan dalam ketepatan pengucapan sebagian bergantung pada tingkat pemerolehan mekanisme suara, tetapi sebagian besar bergantung pada bimbingan yang diterimanya dalam mengaitkan suara ke dalam kata yang berarti. Perbedaan logat yang timbul karena meniru model yang pengucapannya berbeda dari yang biasa digunakan, seperti dalam kasus anak berbahasa dua, yang meniru logat orangtua yang lahir di luar negeri.

2. Pengembangan Kosakata

Tugas kedua dalam belajar berbicara adalah mengembangkan jumlah kosakata. Dalam mengembangkan kosakata, anak harus belajar mengaitkan arti dengan bunyi. Anak-anak lebih dahulu mempelajari arti kata yang sangat dibutuhkanya. Pada usia kanak-kanak dibawah enam tahun, anak menggunakan dua kosakata yaitu kosakata umum dan kosakata khusus. Kosakata umum terdiri atas kata yang dapat digunakan dalam berbagai situasi yang berbeda seperti kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata perangkai atau kata ganti. Sedangkan kosakata yang khusus terdiri atas kata yang dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kosakata warna.

Peningkatan jumlah kosakata tidak hanya karena mempelajari kata-kata baru, tetapi juga karena mempelajari arti baru bagi kata-kata lama. Anak usia prasekolah yang berusia 4-5 tahun rata-rata 1.600 sampai dengan 2.100 kata.

Perbedaan individual dalam ukuran kosakata pada setiap tingkat usia adalah karena perbedaan kecerdasan, pengaruh lingkungan, kesempatan belajar, dan motivasi belajar.

3. Pembentukan Kalimat

Pembentukan kalimat merupakan kegiatan menggabungkan kata kedalam kalimat yang tata bahasanya betul dan dapat dipahami orang lain. Tugas ini adalah tugas yang paling sulit dalam belajar berbicara.

Pada mulanya anak menggunakan kalimat satu kata yakni kata benda atau kata kerja, yang kemudian digabungkan dengan isyarat, untuk mengungkapkan suatu pikiran utuh. Pada usia 4 tahun, kalimat anak hampir lengkap, dan setahun berikutnya kalimat yang digunakan anak sudah lengkap berisi semua unsur kalimat.

Menurut Allen & Lynn (2010:166) anak usia 4-5 tahun telah mampu membuat kalimat sederhana yang terdiri atas lima sampai tujuh kata atau bahkan bisa lebih. Harun, dkk. (2009:248) menambahkan bahwa selain kemampuan membuat kalimat sederhana, kemampuan anak dalam mengucapkan kalimat juga sangat berpengaruh pada kemampuan bicara anak. Anak akan lancar dalam berbicara manakala anak terlatih untuk mempraktekkannya dalam interaksinya dengan lingkungan.

Menurut Hurlock dalam Dhieni, dkk. (2007:3.6-3.7) ada dua kriteria ukuran tingkat kemampuan berbicara. Pertama, apakah anak sudah bisa berbicara dengan benar atau yang kedua yaitu hanya sekedar mengikuti apa yang dikatakan oleh orang dewasa atau biasa disebut dengan „membeo‟. Ada beberapa indikator untuk mengetahui kemampuan anak berbicara dengan benar, yaitu:

  1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkannya dengan objek yang diwakilinya.
  2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dipakai orang dewasa.
  3. Memahami kata-kata tersebut bukan karena sering mendengar atau menduga-duga.

Untuk mengembangkan aspek-aspek keterampilan berbicara di atas maka diperlukan berbagai kegiatan yang dapat membantu anak untuk melatih keterampilan berbicara anak. 

Tarigan, dkk. (1998:154) mengemukakan beberapa metode di dalam pengajaran keterampilan berbicara pada anak yaitu sebagai berikut:

✅ Ulang-Ucap

Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru. Model ucapan diperdengarkan di depan kelas, anak mendengarkan dengan teliti lalu mengucapkannya kembali sesuai dengan model. Kegiatan ulang-ucap ini bisa dilakukan guru ketika memperkenalkan lagu atau puisi sederhana kepada anak.

✅ Lihat-Ucapkan

Guru memperlihatkan kepada anak benda tertentu kemudian siswa menyebutkan nama benda tersebut. Benda-benda yang diperlihatkan dipilih dengan cermat oleh guru disesuaikan dengan lingkungan siswa. Bila bendanya tidak ada atau tidak memungkinkan dibawa ke dalam kelas benda tersebut dapat digantikan oleh tiruannya atau gambarnya.

✅ Memerikan

Memerikan berarti menjelaskan, menerangkan, melukiskan atau mendeskripsikan sesuatu. Siswa di suruh memperhatikan sesuatu benda atau gambar benda, kesibukan lalu lintas, melihat pemandangan atau gambarnya dengan teliti. Kemudian siswa diminta menjelaskan atau memeriksa apa yang telah dilihatnya secara lisan.

✅ Menjawab pertanyaan

Siswa yang susah atau malu berbicara, dapat dipancing untuk berbicara dengan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai dirinya misalnya mengenai nama, usia, tempat tinggal, pekerjaan orangtua.

✅ Bertanya

Melalui pertanyaan, siswa dapat menyatakan keingintahuannya terhadap sesuatu hal. Tingkat atau jenjang pertanyaan yang diutarakan melambangkan tingkat kedewasaan siswa. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang sistematis siswa dapat menemukan yang diinginkannya.

✅ Pertanyaan menggali

Salah satu cara membuat berbicara ialah pertanyaan menggali. Jenis pertanyaan merangsang siswa untuk berpikir. Di samping memancing siswa berbicara, pertanyaan menggali juga dapat digunakan untuk menilai kedalaman dan keluasan pemahaman siswa terhadap suatu masalah.

✅ Melanjutkan cerita

Dua, tiga, atau empat orang siswa bersama-sama menyusun cerita spontan. Kadang-kadang guru boleh juga terlibat dalam kegiatan ini, misalnya guru mengawali cerita dan cerita itu dilanjutkan siswa ke dua, ketiga dan diakhiri oleh siswa berikutnya. Pada kegiatan akhir kegiatan memeriksa jalan cerita apakah sistematis, logis atau padu.

✅ Menceritakan kembali

Guru mempersiapkan bahan bacaan. Siswa membaca bahan itu dengan seksama. Kemudian guru meminta siswa menceritakan kembali isi singkat bacaan dengan kata-kata sendiri. Bila bahan itu dibicarakan siswa diminta untuk menyimaknya. Kemudian siswa diminta menceritakan isi dengan kata-kata sendiri.

✅ Percakapan

Menurut Greena & Patty dalam Tarigan, dkk. (1998:154) percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai sesuatu topik antara dua atau lebih pembina. Dalam percakapan ada dua kegiatan, yakni menyimak dan berbicara silih berganti. Suasana percakapan biasanya akrab, spontan dan wajar. Topik pembicaraan adalah hal yang diminati bersama.

✅ Parafrase

Parafrase berarti alih bentuk, misalnya memprosakan puisi atau sebaliknya mempuisikan prosa. Pada kegiatan ini guru membacakan puisi dengan suara yang jelas, intonasi yang tepat, dan kecepatan normal. Siswa menyimak pembacaan dan kemudian menceritakannya dengan kata-kata sendiri.

✅ Reka cerita gambar

Sebuah gambar atau rangkaian beberapa gambar merupakan sarana ampuh untuk memancing, mendorong atau memotivasi seseorang siswa berbicara. Penghayatan atau pemahaman terhadap suatu gambar atau seri gambar akan berbeda antara satu siswa dan siswa lainnya.

✅ Bercerita

Kegiatan bercerita menuntun siswa ke arah pembicara yang baik. Lancar bercerita berarti lancar berbicara. Dalam bercerita siswa dilatih untuk berbicara dengan jelas, intonasi yang tepat, urutan kata sistematis, menguasai massa pendengar, dan berperilaku menarik.

✅ Memberi petunjuk

Memberi petunjuk seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak sesuatu tempat menuntut sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas, singkat, tepat. Hal ini akan tercapai apabila orang yang memberikan petunjuk itu terampil menggunakan bahasa lisan, yakni berbicara.

Melaporkan

✅ Melaporkan berarti menyampaikan gambaran, lukisan, atau peristiwa terjadinya sesuatu hal. Hal ini dilaporkan dapat berwujud bermacam-macam, misalnya upacara kenegaraan, pertandingan olahraga, peresmian proyek. Kegiatan melaporkan juga dapat dilakukan dalam hal perjalanan, pembacaan buku. Bahasa laporan termasuk ragam bahasa jurnalistik yang harus singkat, jelas, sederhana, lancar, lugas, menarik atau baku.

✅ Bermain peran

Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dari segi bahasa, berarti siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa. yang tepat, urutan kata sistematis, menguasai massa pendengar, dan berperilaku menarik.

✅ Memberi petunjuk

Memberi petunjuk seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak sesuatu tempat menuntut sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas, singkat, tepat. Hal ini akan tercapai apabila orang yang memberikan petunjuk itu terampil menggunakan bahasa lisan, yakni berbicara.

✅ Melaporkan

Melaporkan berarti menyampaikan gambaran, lukisan, atau peristiwa terjadinya sesuatu hal. Hal ini dilaporkan dapat berwujud bermacam-macam, misalnya upacara kenegaraan, pertandingan olahraga, peresmian proyek. Kegiatan melaporkan juga dapat dilakukan dalam hal perjalanan, pembacaan buku. Bahasa laporan termasuk ragam bahasa jurnalistik yang harus singkat, jelas, sederhana, lancar, lugas, menarik atau baku.

✅ Bermain peran

Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dari segi bahasa, berarti siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa. juga mengungkapkan bahwa ada beberapa aspek kegiatan yang dapat dijadikan untuk mengembangkan kemampuan berbahsa lisan (berbicara) yaitu dengan cara merangsang minat anak untuk berbicara, latihan menggabungkan bunyi bahasa, memperkaya perbendaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyanyian, dan mengenalkan lambang tulisan.

Melihat ada berbagai aspek berbicara pada anak yang harus dikembangkan, maka beberapa metode dan kegiatan di atas dapat digunakan untuk melatih keterampilan berbicara anak sekaligus melihat sejauh mana perkembangan keterampilan berbicara anak pada usia tertentu.