Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembelajaran pada Masa "New Normal"

Memasuki "New Normal" pembelajaran pastinya juga kembali ke pembelajaran normal, pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Tentunya diperlukan penerapan sistem pembelajaran yang bisa memadukan pembelajaran tatap muka langsung, pembelajaran daring pembelajaran luring, dan menjalankan protokol kesehatan.

Ada beberapa aspek pendidikan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah dalam menerapkan kebijakan "New Normal" ini. Sistem pembelajaran, kurikulum, kompetensi guru, dan infrastruktur sekolah harus disiapkan. Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah akan berbeda dengan sebelum masa pandemi. 

Penerapan physical distancing dengan menjaga jarak tempat duduk siswa akan berdampak pada kapasitas ruang kelas. Kalau sebelumnya ruang kelas bisa diisi siswa dengan jumlah maksimal sesuai standar maka sekarang hanya dapat diisi setengah atau sepertiga jumlah siswa

Pembelajaran pada masa New Normal

Sistem pembelajaran

Pembelajaran yang dilakukan harus memperhatikan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19. Proses pembelajaran yang berlangsung harus menerapkan physical distancing, menggunakan masker, dan rutin mencuci tangan dengan sabun.

Penerapan physical distancing dengan menjaga jarak tempat duduk siswa akan berdampak pada kapasitas ruang kelas. Kalau sebelumnya ruang kelas bisa diisi siswa dengan jumlah maksimal sesuai standar maka sekarang hanya dapat diisi setengah atau sepertiga jumlah siswa.

Dengan demikian perlu dirumuskan pola masuk siswa ke kelas, apakah diatur dengan model shift (siswa masuk kelas dibagi dalam beberapa shift) atau model lain yang disepakati. Juga sistem pembelajaran daring dan luring yang selama masa pendemi diterapkan perlu dipertimbangkan untuk tetap dilanjutkan dalam proses pembelajaran. Siswa dan guru sudah mengenal bahkan terbiasa dengan pembelajaran daring dan luring tersebut

Kurikulum

Kurikulum yang ada juga harus disesuaikan dengan memodifikasi materi pembelajaran. Materi pembelajaran sangat perlu memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki siswa. Beban ketuntasan materi dalam kurikulum juga perlu dikaji ulang sebagai dampak perubahan sistem pembelajaran. Sebagai akibat dari penyesuaian kurikulum ini tentunya akan terjadi pengurangan materi. Mated pembelajaran akan lebih simpel dan lebih menekankan pada pencapaian kompetensi dasar keterampilan siswa.

Kompetensi guru

Perubahan sistem pembalajaran dan penyesuaian kurikulum menuntut guru untuk siap dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas. Belajar dad sistem pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 banyak guru yang merasa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran daring dengan berbasis kecakapan hidup (life skill). Menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan fasilitasi peningkatkan kompetensi guru. Juga menjadi wahana bagi pejabat fungsional tertentu Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP), Widyaiswara (WI), dan Widyaprada (WP) untuk melakukan fasilitasi, pembimbingan, dan layanan konsultasi bagi guru. 

Infrastruktur Sekolah

Perubahan sistem pembelajaran menuntut setiap sekolah untuk menyiapkan infrastruktur pembelajaran yang lebih dad pada sebelumnya. Dad infrastruktur yang ada perlu ditambah dengan sarana prasarana terkait dengan protokol kesehatan, pembelajaran secara shift, dan pembelajaran daring jika diperlukan. Penyiapan infrastruktur ini tentunya membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit Belum tentu semua sekolah mampu membiayai kebutuhan infrastruktur yang dibutuhkan.

Pemerintah harus menyiapkan skema pembiayaan bagi sekolah dalam menyediakan infrastruktur pembelajaran apabila "New Normal" diterapkan. Dengan ketiga aspek yang harus dipertimbangkan di atas, perlu didesain suatu pembelajaran yang mudah dan bisa diterapkan. Pembelajaran yang bisa dilakukan siswa dan guru dengan mudah serta memenuhi standar protokol kesehatan. Salah satu yang bisa diterapkan pada masa pandemi ini adalah blended learning.

Baca Juga : Pengertian Blended Learning