Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cara dan Tips Membuat Portofolio Kerja | Membangun CV, Resume, Surat Lamaran Kerja

Informasi Umum - Membuat dan menyusun portofolio memang akan membingungkan jika kamu belum memahami esensi dan kegunaan dari portofolio itu sendiri. Namun, jika kamu sudah mengetahuinya, kamu dapat mulai menyusun portofoliomu dengan panduan dan tips sederhana di bawah ini.
Cara dan Tips Membuat Portofolio Kerja  Membangun CV, Resume, Surat Lamaran Kerja

Cara dan Tips Membuat Portofolio Kerja
Membangun CV, Resume, Surat Lamaran Kerja
1. Cari tahu apa yang bisa kamu “jual” dan “pamerkan”
Sederhananya, kamu harus dapat menyesuaikan apa yang ingin kamu letakkan dalam portofoliomu dengan apa yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan yang kamu incar.
Misalnya, jika kamu ingin melamar kerja sebagai seorang content writer, artinya kamu harus “menjual” dan “memamerkan” hasil karya kamu berupa sebuah tulisan, entah dalam bentuk artikel, postingan dalam blog, narasi hasil penelitian, atau naskah—tergantung jenis penulis lepas yang dibutuhkan. Lebih baik lagi jika kamu mampu menyesuaikan tulisanmu dengan tema atau isu yang menjadi latar belakang perusahaan/instansi terkait beroperasi.

2. Cari tahu bagaimana cara terbaik untuk “menjual” dan “memamerkan” karyamu
Beda karya, beda pula cara memasarkannya. Karya seorang video editor tentunya tidak bisa “dijual” dan “dipamerkan” di tempat dan cara yang sama dengan karya seorang programmer ataupun seorang UI/UX designer.

Maka dari itu, rajinlah untuk mengobservasi apa yang dilakukan oleh orang-orang dengan keterampilan serupa untuk “menjual” dan “memamerkan” karyanya. Misalnya, sebagai seorang video editor, Youtube adalah tempat yang paling tepat untuk “menjual” dan “memamerkan” karyamu, sedangkan menaruh karyamu di situs seperti Pinterest, Behance, atau Dribbble adalah cara paling tepat untuk “menjual” dan “memamerkan” karyamu sebagai seorang UI/UX designer.

3. Beri sentuhan personal dalam portofoliomu
Agar portofoliomu terasa lebih “hidup”, sangat disarankan jika kamu menyertakan detil yang menjadi ciri khasmu di dalam portofoliomu sendiri. Apalagi jika profesi atau perusahaan/instansi yang kamu incar bergerak dalam industri kreatif, inilah saatnya dimana kamu menunjukkan bahwa kamu mampu menjadi kandidat yang paling menonjol diantara yang lain.

Misalnya, jika kamu seorang graphic designer, kamu bisa memilih gaya menggambar ataupun palet warna yang menunjukkan kepribadian dan kekuatan dirimu. Atau, jika kamu seorang fotografer, kamu bisa membuat sebuah portofolio yang tidak hanya menunjukkan teknik pengambilan gambar kamu yang mumpuni, tapi juga narasi atau cerita yang ingin kamu sampaikan dari kumpulan foto-foto tersebut.

4. Kumpulkan ulasan baik tentang karya-karyamu
Ulasan adalah bentuk komentar terhadap hasil karyamu dari pihak-pihak yang terlibat dengan penggunaan karya tersebut. Ulasan yang baik akan meningkatkan kualitas serta kredibilitas kamu sebagai seorang yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang yang kamu tekuni.

Ketika karya-karyamu sudah dilihat dan dinikmati oleh orang lain, adalah hal yang wajar jika kamu ingin mendengar respon mereka sebagai saran pengembangan dan acuan bahwa karya kamu terbukti memberikan dampak positif bagi mereka. Ulasan dari mereka dapat kamu gunakan untuk memperkuat posisimu sebagai kandidat yang mumpuni untuk posisi yang kamu lamar.

5. Selalu cantumkan karya yang terbaru
Karena portofolio berfungsi sebagai medium yang menunjukkan perkembanganmu sebagai seorang yang memiliki keterampilan yang mumpuni dalam bidangmu, karya-karya yang akan kamu tampilkan dalam portofoliomu haruslah karya yang terbaru untuk menunjukkan versi terbaik yang kamu miliki.

Disamping itu, dengan terus memperbaharui isi portofoliomu dengan karya-karyamu yang terbaru, kamu dapat membentuk persepsi dimana kamu mampu mengikuti tren dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di saat yang tepat.

Berlangganan via Email