Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pengaruh Lama Belajar Di Rumah

Masbabal.Com - Belajar merupakan kunci utama dari kesuksesan siswa dalam pendidikan. Dari proses belajar yang dilakukan siswa dapat mengetahui apa yang belum diketahui dan memperdalam apa yang sudah diketahui baik belajar yang dilakukan di sekolah maupun di rumah. Belajar yang dilakukan di rumah tidak kalah pentingnya dari belajar yang dilakukan di sekolah karena belajar tidaklah cukup apabila hanya dilakukan di sekolah. Apakah Pengaruh Lama Belajar Di Rumah?
Pengaruh Lama Belajar Di Rumah

Pengaruh Lama Belajar Di Rumah
Belajar yang dilakukan di rumah merupakan kegiatan setelah pembelajaran yang dilakukan siswa di sekolah dengan cara mengulang pelajaran yang telah diajarkan. Dengan cara mengulang pelajaran yang telah diajarkan di sekolah sangat membantu dan menunjang pemahaman materi siswa. Hal ini bertujuan untuk mengingat kembali pelajaran yang telah diajarkan dan memperbaiki semua kesan yang masih samar-samar untuk menjadi kesan yang sesungguhnya yang tergambar jelas dalam ingatan.

Maksudnya, materi yang sudah dipelajari siswa di sekolah akan lebih jelas dan paham apabila dipelajari ulang dan apabila materi yang diajarkan guru di sekolah siswa belum paham, dengan belajar di rumah melalui cara mengulang pelajaran tadi diharapkan siswa bisa jelas dan paham.

Belajar yang dilakukan di rumah juga dapat dilakukan untuk mempersiapkan pelajaran yang akan datang / pokok bahasan baru sebagai pemahaman awal untuk materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya.

Lama Belajar merupakan waktu yang dihabiskan anak dalam proses belajar yang dilakukan yang diakumulasi menjadi satu dalam satu hari atau dalam satu kali belajar. Lama belajar yang dilakukan anak dalam satu hari atau dalam satu kali belajar berbeda-bedadari anak satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dipengaruhi dari dalam siswa itu sendiri atau dari keadaan sekitar tempat siswa itu belajar. Apabila kita melihat siswa sekarang, banyak siswa malas untuk belajar, mereka mudah bosan, mudah lelah dalam belajar, mereka lebih tertarik dengan  gadget yang mereka miliki atau lebih memilih untuk menonton televisi sehingga belajar yang dilakukan hanya sebentar bahkan ada siswa yang tidak belajar setiap hari, mereka hanya belajar disaat ada tugas ataupun menjelang ulangan harian atau ulangan semester. Sehingga diperlukan pengawasan yang baik dari orang yang lebih dewasa agar kegiatan siswa di rumah dapat terorganisir dengan baik.

Dalam pendidikan anak di rumah, Orang tua atau keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama yang ditemui anak sebagai pendidikan dasar dan sebagai modal awal untuk pendidikan yang berikutnya. Pendidikan dari orang tua tersebut merupakan tempat anak untuk belajar, baik belajar ilmu pendidikan, ilmu sosial maupun ilmu agama.

Dalam keluarga, anak melakukan sesuatu dari apa yang secara sadar diajarkan melalui pembiasaan atau sikap yang diterapkan orang tuanya kepada mereka, sesuatu yang sengaja diajarkan atau sesuatu yang mereka lihat dari orang dewasa menjadi contoh sehingga apa yang mereka lihat dan diajarkan kepada mereka baik secara sadar atau tidak sadar akan menentukan kepribadian anak.

Sikap orang tua merupakan cerminan dari sikap yang dimiliki anak yang diterapkaan dalam keluarga. Dimana sikap tersebut mempunyai sumbangan yang cukup besar dalam perkembangan kepribadian anak itu sendiri. Salah satu sikap orang tua yang ada adalah sikap otoriter. Sikap otoriter merupakan sikap orang tua terhadap anak dimana orang tua sangat mengatur anaknya dan menuntut prestasi tinggi pada anaknya tetapi orangtua tidak memberikan kebebasan kepada anak untuk mengungkapkan pendapatnya/keinginannya dan menomorduakan kebutuhan anak. Dalam hal ini orang adalah pengambil keputusan dari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak.

Dalam mengasuh anak, orang tua harus hati-hati dan tepat dalam mendidik dan mengawasi pendidikan anaknya sehingga hasil belajar anak dapat sesuai dengan harapan. Sikap orang tua juga harus mendorong anak untuk memiliki kebebasan dalam berpendapat, bersikap hangat, penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak apabila tindakan tersebut bersifat konstruktif dalam pendidikan.

Referensi:
Purwanto, Ngalim. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Dimayati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaranya.Jakarta: Rineka Cipta.

Berlangganan via Email