Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Makalah Tentang Anak Gunung Krakatau

Masbabal.Com - Makalah Tentang Anak Gunung Krakatau membahas tentang Pengertian Anak Gunung Krakatau, Letusan Gunung Krakatau 1883, Dampak Letusan Gunung Krakatau, Perubahan Iklim Setelah Letusan Besar Krakatau, Pasca Letusan dan serangan tsunami. Lebih Jelas Simak Makalah dibawah ini Tentang Anak Gunung Krakatau.

Makalah Tentang Anak Gunung Krakatau

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang - Sebagai negeri yang kaya akan gunung berapi, Indonesia tentunya memiliki banyak pengalaman bencana dari letusan gunung berapi. Ada sekitar 129 gunung berapi yang masih aktif di Indonesia atau sekitar 13 persen dari jumlah seluruh gunung berapi di dunia. Gunung api ini berdiri sepanjang 7000 kilometer dari Aceh hingga ke Sulawesi Utara, melewati Bukit Barisan, Kepulauan Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku (Sudradjat, 1989: 15). Pulau Jawa sendiri memiliki 35 gunung berapi atau 25 persen dari seluruh gunung berapi di Indonesia. Tidak mengherankan jika Jawa memiliki beberapa pengalaman bencana letusan gunung berapi yang besar.

Namun demikian, gunung berapi telah menciptakan Pulau Jawa sebagai pulau yang paling subur di kepulauan Indonesia. Misalnya saja, tanah subur di Pulau Jawa bisa mendukung 1.200 orang per mil, di mana di Kalimantan hanya mampu mendukung 4,5 orang saja pada luas yang sama (Furneaux, 1964: 45).

Hal ini dikarenakan material yang dikeluarkan dari gunung berapi terutama di Jawa secara tidak langsung menciptakan kesuburan tanah. Dalam konteks ini, dampak positif dari letusan gunung Krakatau 1883 bagi Banten dan Sumatera adalah wilayah ini kaya akan pertanian dan usaha perkebunan. Letusan Krakatau 1883 merupakan letusan gunung berapi yang terbesar pada masa itu. Letusannya mengeluarkan ribuan ton material berupa batu, lumpur, dan debu. Material ini memberikan dampak yang negatif pada beberapa tahun setelah letusan. Namun demikian, dampak positif berupa kesuburan ekologi dan kekayaan habitat di Pulau Krakatau dan sekitarnya terjadi pada puluhan tahun berikutnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kini banyak penduduk datang dan menempati kembali beberapa pulau di sekitar Gunung Krakatau, Pulau Sebesi salah satunya (Kompas.com, 21 November 2011).

Pulau Sebesi merupakan salah satu pulau yang pada saat letusan Krakatau 1883 terkena dampak hempasan gelombang tsunami yang disertai dengan material vulkanik. Semua penghuni pulau ini tewas dan seluruh infrastruktur hancur. Namun, saat ini pulau tersebut telah ramai dihuni kembali oleh penduduk dari berbagai daerah. Kesuburan tanah dan tersedianya air bersih, membuat banyak penduduk enggan meninggalkan pulau ini, meskipun bayang-bayang letusan Gunung Anak Krakatau selalu ada setiap saat dengan minimnya sistem mitigasi dan evakuasi bencana Krakatau.


BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung yang cukup aktif dan letusan gunung Krakatau 1883 merupakan bencana vulkanik terdahsyat pada abad ke-19 setelah Gunung Tambora 1815 dan menjadi catatan dalam sejarah vulkanik dunia. Letusan Krakatau 1883 menarik perhatian para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu hingga saat ini, misalnya saja dari bidang geologi, hidrologi, meteorologi, dan oseanografi, yang memberikan kontribusi bagi wahana pemahaman peristiwa-peristiwa bencana (Simkin & Fiske 1983: 15) dan wawasan baru dalam ilmu pengetahuan ke depan.

Namun, bagaimanakah peristiwa letusan Krakatau 1883 tersebut dan apa dampaknya bagi kehidupan sosial di Indonesia? Tulisan ini hendak memaparkan dampak letusan gunung Krakatau 1883 bagi ekologi dan penduduk di Banten, serta kaitannya dengan gerakan sosial di Banten pada tahun 1888.

Letusan Gunung Krakatau 1883
Letusan gunung berapi diartikan sebagai terbukanya lapisan atas bumi yang mengeluarkan lelehan atau batu yang mencair, debu, gas, dan berbagai batuan lainnya. Cairan batuan panas (magma) ini akan mengalir jauh ke dataran yang lebih rendah (Woods & Woods, 2005: 6) dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Efek letusan gunung berapi yang besar dapat berbahaya dan menimbulkan kerusakan besar pula bagi mahkluk hidup, lingkungan, bangunan, dan sebagainya. Kerusakan dan perubahan lingkungan yang ditimbulkannya juga akan membutuhkan  usaha, dana, dan waktu pemulihan yang cukup banyak. Namun, bahaya bagi manusialah yang paling besar, bahkan bagi yang selamat pun membutuhkan pemulihan dari segi psikologi, seperti kejiwaan karena kesedihan, ketakutan atau trauma yang dialaminya, maupun fisik, seperti masalah kesehatan.

Dalam sejarah vulkanologi di Indonesia, diperkirakan sekitar 175.000 manusia tewas akibat bencana letusan gunung berapi sejak 400 tahun yang lalu. Pada periode yang sama, jumlah korban tewas akibat letusan gunung berapi di dunia sendiri sekitar 300.000 orang, yang berarti setengahnya adalah dari Indonesia (Woods & Woods, 2005: 3). Letusan gunung Krakatau 1883 sebagai salah satu letusan gunung berapi yang dahsyat dan berbahaya dalam sejarah bencana di Indonesia. Letusannya yang hebat telah meruntuhkan sebagian besar tubuh gunung berapi bersama Pulau Rakata ke dalam laut.

Hanya kalderanya saja yang muncul di atas permukaan laut dan fenomena ini hanya terjadi pada Krakatau dan Tambora dalam sejarah Gunung Berapi di abad ke-19.1 Letusan besar Krakatau juga pernah terjadi pada tahun 1680 yang tercatat dalam buku Johann Wilhelm Vogel yang ditulis dalam bahasa Jerman berjudul “Ost Indianische Reise Beschreibung” (Naratif tentang perjalanan ke East Indies) (Hakim, 1981: 21). Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang diketahui secara luas, disebut juga sebagai bencana alam yang memiliki kedasyatan yang sama dengan kisah masyarakat Pompeii dan Heculaneum, di mana sebuah kota dan masyarakat kuno yang makmur terkubur oleh letusan besar Gunung Vesuvius (Furneaux, 1964: 37).

Dampak Letusan Gunung Krakatau
Gunung Krakatau berdiri di atas pulau berapi yang dikenal dengan nama Pulau Krakatau atau Rakata dengan luas 33,5 km² (sebelum meletusnya Gunung Krakatau). Pulau ini terbentang bersama dengan Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Di atas Pulau Krakatau berdiri Gunung Krakatau dengan tinggi 800 meter, Gunung Danan (405 meter), and Gunung Perbuatan (120 meter) (Hakim, 1981: 15). Pada saat letusan Krakatau 1883, Pulau Krakatau bersama badan Gunung Krakatau runtuh yang diikuti pula oleh runtuhnya Gunung Danan dan Perbuatan ke dasar laut. Runtuhnya badan gunung inilah yang menimbulkan gelombang besar (tsunami) yang maha dahsyat. Efek tsunami dari letusan menyebabkan Gunung Krakatau menjadi sangat berbahaya dan mematikan. Setelah letusan Krakatau, luas Pulau Krakatau menjadi tinggal 10,5 km² dan meninggalkan kaldera berdiameter 5 km di atas permukaan laut.

Besarnya material yang dimuntahkan oleh Krakatau, seperti magma yang terbawa oleh ombak tsunami, memberi gambaran tentang bahaya gunung berapi di wilayah laut. Tsunami telah menerjang pantaipantai di sekitar Selat Sunda, seperti menghantam pantai di daerah Lampung, Banten dan sekitarnya yang mengakibatkan hancurnya banyak segi kehidupan komunitas di sana. Tsunami yang diiringi oleh energi magma dan batuan panas telah menewaskan sekitar 36.000 jiwa disertai hancurnya berbagai pondasi penopang kehidupan masyarakat, seperti perkebunan, pertanian, pertenakan, pasar, dan fasilitas umum atau infrastruktur lainnya. Dalam catatan sejarah, gelombang tsunami Krakatau pada permukaan laut meliputi paling sedikit seluas 4000 km². Letusan Krakatau 1883 telah memberikan dampak pasca bencana yang cukup besar pada lingkungan dengan habitat manusia, hewan, dan tumbuhannya.

Perubahan Iklim Setelah Letusan Besar Krakatau
Setelah letusan besar Krakatau, atmosfer menjadi gelap karena tertutup debu vulkanik. Sebagian besar sinar matahari tidak dapat menembus lapisan atmosfer untuk mencapai bumi. Akibatnya, suhu bumi turun dan merubah iklim secara drastis pada saat itu, di mana musim dingin lebih panjang dari pada musim panas. Efek letusan gunung berapi dan dampaknya terhadap perubahan iklim banyak dijelaskan dalam beberapa artikel berskala nasional dan internasional dan umumnya dalam ranah sains. Sejumlah material, berupa debu, gas, dan tetesan erosol (partikel-partikel halus yang tersebar di atmosfer bumi) menyembur hingga lapisan langit stratosfer kemudian abu ini jatuh dengan cepat dari stratosfer dalam beberapa hari. Namun, gas vulkanik berupa sulfur dioksida yang berperan besar menyebabkan perubahan iklim, berupa pendinginan secara global, dibandingkan karbondioksida vulkanik (gas ruang kaca) yang menyebabkan pemanasan secara global (USGS, Volcanic Gases and Climate Change Overview, 2012).

Perubahan iklim yang drastis berupa pendinginan global terjadi setelah letusan Krakatau 1883. Letusan hari pertama pada 26 Agustus petang dan letusan hari kedua pada 27 Agustus 1883, daerah Banten juga Batavia diselimuti debu-debu letusan Krakatau. Hujan abu yang menyembur di pagi hingga siang hari menyebabkan suasana hari menjadi kelam dan suhu turun hingga mencapai 7 derajat celcius (Hakim, 1981: 35).

Selama satu tahun sinar matahari terhalang oleh debu vulkanik Krakatau. Kurangnya sinar matahari menyebabkan udara di Banten menjadi lembab. Bangkai hewan dan manusia cepat membusuk. Usaha pemulihan berupa pembersihan sampah (bangkai dan runtuhan) terhambat karena kurangnya sumber daya manusia. Usaha untuk menanam tanaman tidak dapat dilakukan selain tanah yang masih tebal oleh lumpur dan persediaan air bersih yang minim, juga karena jarang adanya sinar matahari sebagai energi fotosintesis dan nutrisi tanaman. Efeknya Banten dan Lampung tidak memiliki sumber pangan untuk komunitasnya untuk jangka waktu tiga tahun ke depan hingga tanah dapat diolah kembali dan iklim kembali normal

Kerusakan dan Korban Jiwa
Terjangan gelombang tsunami mencapai 30 mil atau kurang lebih 48,28 km (jika 1 mil=1,6093 km) dari pantai dan menenggelamkan kota dari Caringin, Panembang, hingga Cirebon. Banyak penduduk yang akan mengungsi akhirnya juga tewas karena diterpa oleh hempasan tsunami.

Diperkirakan lebih dari 30.000 ribu orang menjadi korban dalam peristiwa ini (Furneaux, 1964: 98). Setelah terjangan gelombang tsunami, wilayah Selat Sunda dari pantai hingga puluhan kilometer ke pedalaman menjadi rata. Banyak desa dan kota yang hancur, ditambah dengan infrastruktur yang rusak berat, seperti jembatan, jalan raya, kantor, dan gudang (situasi ini juga sangat mengganggu bagi pemerintah kolonial Belanda yang memiliki kepentingan besar terhadap infrastruktur dan sumber ekonomi yang ada di wilayah Banten dan Lampung). Salah satu kota yang rusak dan penduduknya menjadi korban adalah kota Karang Antu yang dekat dengan pelabuhan Serang dan menjadi persinggahan para pedagang sehingga berkembang menjadi pusat bisnis. Kota ini rusak parah dan kurang lebih 300 orang penduduknya meninggal dunia (Furneaux, 1964: 99). Secara umum, jumlah penduduk yang tewas dan desa-desa yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami dari letusan Krakatau adalah sebagai berikut.

Jumlah Penduduk yang tewas dan Desa yang rusak dalam Peristiwa Letusan Krakatau 1883
Jumlah Penduduk yang tewas dan Desa yang rusak dalam Peristiwa Letusan Krakatau 1883
Sumber: Furneaux, 1964: 132
Pasca letusan dan serangan tsunami
Pasca letusan dan serangan tsunami, kondisi masyarakat Banten dan Lampung kacau balau. Bangkai manusia dan hewan bertebaran di mana-mana. Lumpur dan debu menutupi semua permukaan tanah, termasuk bangunan, tumbuhan, dan sungai-sungai. Persawahan dan perkebunan rakyat juga pertanian dan perkebunan milik pemerintah kolonial Belanda rusak total, sehingga kelaparan dan penyakit muncul di mana-mana.

Kelaparan menyebabkan banyak penduduk yang selamat berlomba untuk mencari bahan pangan yang masih bisa diambil dari sisasisa yang tertinggal dari hempasan ombak tsunami. Kelapa atau buah yang masih bisa dimakan dimanfaatkan oleh penduduk yang selamat. Kurangnya pangan juga menyebabkan migrasi penduduk ke wilayah lain.

Banyak penduduk dari Lampung yang bermigrasi ke Jawa atau Batavia dengan menumpang kapal kapal laut pengangkut barang Belanda. Penduduk ini berkelana di Batavia untuk mencari pertolongan dari pemerintah kolonial. Ada yang diberi bantuan seadanya, namun banyak pula yang tidak dapat dan tidak bisa kembali ke daerah asalnya.

Kondisi setelah bencana menyebabkan psikologi masyarakat yang selamat di daerah bencana semakin tidak menentu. Terutama bagi penduduk yang kehilangan sanak saudaranya. Penderitaan dan suasana mencekam pasca letusan Krakatau dan terjangan gelombang tsunami ini dapat dilihat dari ungkapan seorang korban bencana di daerah Lampung yang terekam dalam Syair Lampung Karam yang diangkat oleh Suryadi (2008):

Hendak kemanalah pergi?
Tempatnya kita sudahlah tinggi,
Jikaulah air sampai kesini,
Sudah kiamat isinya negeri

Sebuah situasi yang kritis ketika gelombang tsunami menghapus negeri yang dianologikan masyarakat sebagai sebuah kiamat. Gambaran setelah letusan Krakatau juga diilustrasikan oleh seorang saksi mata, Van Sandick, seorang insinyur yang berada di atas kapal Loudon yang sedang berlayar dari Batavia menuju Teluk Betung, Lampung. Suasana Anyer setelah letusan Krakatau dan gelombang tsunami adalah:
“There was a horrific sight, where the coasts of Java and Sumatra were completely destroyed. Every where existed grey and gloomy colors. The villages and trees had disappeared; we could not even see any ruins. The waves had destroyed and swallowed up the habitants, their homes, their plantations, and their animals. It had difficult to recognize Anyer, as there was no one house of this lively town was left standing. This was truly a scene of the Last judgment.” (Furneaux, 1964: 126).

Kelaparan dan Penyakit
Dampak bencana Krakatau berupa berkurangnya pasokan airbersih dan pangan karena kekeringan  dan gagal panen telah menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit pada penduduk lokal semakin meluas. Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat lokal yang pada sebelum bencana telah mengalami tekanan sosial, ekonomi dan politik yang serius akibat kebijakan-kebijakan kolonial.

Setelah bencana Krakatau, krisis ekonomi dan sosial di wilayah Lampung dan terutama di Banten semakin serius. Kelaparan, penyakit, pencurian, ketakutan, dan sebagainya semakin meningkat. Banyak masyarakat yang bermigrasi atau menjadi kuli ke wilayah lain di tanah air untuk bisa mempertahankan hidup. Kondisi ekonomi dan sosial yang rapuh menyebabkan masyarakat sangat rentan terhadap pergolakan dan sentimen-sentimen sosial. Meskipun pemerintah kolonial telah berusaha keras untuk memperbaiki kembali kondisi psikologi masyarakat setelah bencana dengan beragam bantuan seperti pakaian, makanan, modal atau uang, perbaikan tempat tinggal, perbaikan jalan raya, dan sebagainya, hal tersebut belum bisa memperbaiki relasi sosial antara masyarakat asli dengan pemerintah kolonial, termasuk menghentikan problem psikologis masyarakat yang kesulitan dan menderita yang telah berlangsung lama dan semakin memburuk setelah bencana.

Kesimpulan
Sebagai sebuah gunung berapi yang berdiri di tengah lautan, Krakatau tidak hanya eksotis tetapi juga mengandung bahaya yang besar karena dampak letusannya menciptakan ancaman gelombang tsunami yang dasyat. Letusan besarnya pada Agustus 1883, telah memberikan sebuah gambaran bagi masyarakat nasional dan internasional tentang kekuatan yang tersimpan di tubuh Krakatau. Hempasan gelombang tsunami dari letusan 1883 yang memporakporandakan banyak pemukiman atau pedesaan terutama sepanjang pesisir Banten dan Lampung, serta abu dan gas vulkanik yang merubah cuaca di bumi telah memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat di wilayah bencana. Kerusakan ekologi, kegagalan panen akibat perubahan cuaca yang berlanjut pada meningkatnya kemiskinan dan kelaparan, serta perasaan tertekan masyarakat korban bencana dapat membawa pada reaksi-reaksi sosial yang tidak terasa, namun menyimpan energi besar.

Daftar Pustaka
Chambert-Loir, Henri. 2004. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & École Française d'Extrême-Orient.
Furneaux, Rupert. 1964. Krakatoa. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Hakim, Abdul. 1981. 100 tahun meletusnya Krakatau, 1883-1983. Jakarta: Pustaka Antar Kota.
Kartodirdjo, Sartono. 1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya.
Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 16 No. 1 Tahun 2014

Berlangganan via Email