Peristiwa Agung Hari Asyura yang Wajib Diketahui Umat Islam
MASBABAL.COM - Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah, bukan sekadar hari biasa dalam penanggalan Islam. Muharram sendiri merupakan bulan pertama kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia yang diistimewakan Allah, menjadikan setiap peristiwa di dalamnya sarat makna spiritual yang mendalam.
Selain dianjurkannya ibadah puasa, Hari Asyura menyimpan jejak panjang berbagai peristiwa besar dalam sejarah kenabian dan peradaban Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan hanya catatan historis, melainkan pelajaran abadi yang terus relevan bagi umat manusia hingga hari ini.
Pesan Universal di Balik Hari Asyura
Jika ditelusuri melalui lembaran sejarah para nabi dan perjalanan umat Islam, Asyura selalu menghadirkan satu pesan yang konsisten: kebenaran pada akhirnya akan menang, meskipun harus melewati jalan panjang yang penuh pengorbanan. Kemenangan itu hadir dalam berbagai wujud — terkadang berupa keselamatan fisik, terkadang keteguhan iman di tengah tekanan, dan pada kesempatan lain menjelma sebagai kemuliaan syahid di sisi Allah.
Pemahaman mendalam terhadap tiga peristiwa utama yang dikaitkan dengan Asyura akan membuka cakrawala baru dalam memaknai hari bersejarah ini secara utuh dan kontekstual.
Nabi Musa dan Terbelahnya Laut Merah
Salah satu peristiwa paling masyhur yang dikaitkan dengan Hari Asyura adalah kemenangan Nabi Musa AS dan Bani Israil atas tirani Fir'aun yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Allah memerintahkan Musa untuk membawa kaumnya keluar dari Mesir, memulai perjalanan menuju kebebasan dari penindasan yang panjang.
Pada momen paling kritis — ketika Bani Israil terjepit di tepi laut sementara pasukan Fir'aun mengejar dari belakang — pertolongan Allah datang dengan cara yang melampaui nalar manusia. Laut terbelah menjadi jalan keselamatan bagi kaum beriman, sekaligus menjadi kuburan bagi tentara yang zalim.
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Kami dekatkan golongan yang lain ke tempat itu. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh Tuhanmu benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 63-68)
Baca Juga: Agenda Hari Pendidikan Nasional 2026
Peristiwa ini menegaskan bahwa sebesar apa pun kekuatan kezaliman, ia tidak akan pernah mampu melawan kehendak Allah. Ketika seluruh jalan tampak tertutup, Allah sanggup membuka pintu pertolongan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia sebelumnya.
Nabi Nuh dan Berlabuhnya Bahtera di Bukit Judi
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa pada Hari Asyura, kapal Nabi Nuh AS berlabuh di Bukit Judi setelah banjir besar yang menenggelamkan bumi. Para ulama menilai riwayat tersebut tergolong lemah dari sisi sanad, namun kisah Nabi Nuh sendiri tetap mengandung hikmah luar biasa tentang kesabaran dan keteguhan iman yang tak tergoyahkan.
Selama berabad-abad, Nabi Nuh berdakwah tanpa kenal lelah kepada kaumnya yang keras kepala, namun hanya segelintir orang yang merespons seruannya dengan keimanan yang tulus. Ketika azab Allah akhirnya datang, keselamatan hanya diberikan kepada mereka yang teguh bersama beliau dan menaiki bahtera atas izin-Nya.
"Naiklah kamu ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Hud [11]: 41)
"Dan difirmankan, 'Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah.' Air pun surut, keputusan telah ditetapkan, dan kapal itu berlabuh di atas Bukit Judi." (QS. Hud [11]: 44)
Kisah Nabi Nuh mengingatkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu datang dalam waktu singkat. Ada kalanya seorang mukmin harus melewati masa panjang yang sarat ujian sebelum akhirnya menyaksikan pertolongan Allah tiba, sebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-hamba-Nya.
Syahidnya Sayyidina Husain bin Ali di Karbala
Hari Asyura juga selamanya terukir dalam sejarah Islam sebagai hari gugurnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma, cucu tercinta Rasulullah SAW yang amat dikasihi. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda tentang kedudukannya yang istimewa: "Hasan dan Husain adalah dua bunga kesayanganku di dunia." (HR. al-Bukhari)
Pada tahun 61 Hijriah, Husain gugur di padang Karbala setelah menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar dan tidak sebanding. Secara lahiriah, beliau dan keluarganya mengalami penderitaan yang amat berat, namun dalam perspektif iman, kesyahidan Husain adalah kemenangan yang nilainya jauh melampaui kemenangan duniawi mana pun.
"Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain." (HR. at-Tirmidzi)
"Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. al-Baqarah [2]: 154)
Tragedi Karbala mengajarkan pelajaran yang tak lekang oleh waktu: kemuliaan sejati tidak diukur dari keberhasilan politik atau kemenangan di medan perang. Ada dimensi kemenangan yang lebih tinggi, yaitu keteguhan mempertahankan prinsip kebenaran meskipun harus membayarnya dengan nyawa.
Relevansi Asyura di Tengah Realitas Dunia Hari Ini
Mengenang Musa, Nuh, dan Husain pada Hari Asyura membuat umat Islam masa kini tidak dapat menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina yang terus menghadapi penindasan, pengusiran, dan kekerasan tanpa henti. Pemandangan kehancuran dan ketidakadilan yang menimpa mereka mengingatkan bahwa perjuangan melawan kezaliman masih berlangsung nyata hingga detik ini.
Dalam perspektif iman yang mendalam, kemenangan tidak selalu identik dengan keberhasilan yang segera tampak di mata. Kemenangan sejati dapat hadir dalam wujud keteguhan hati, kesabaran yang kokoh, kemuliaan para syuhada, serta keyakinan bulat bahwa keadilan Allah pasti terwujud pada waktu yang telah Dia tentukan.
Cara Terbaik Memperingati Hari Asyura: Puasa
Amalan utama yang diajarkan Rasulullah SAW dalam memperingati Hari Asyura adalah dengan menunaikan ibadah puasa. Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi tengah berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk penghormatan atas kemenangan Nabi Musa atas Fir'aun.
Rasulullah SAW kemudian bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. al-Bukhari). Beliau pun langsung berpuasa dan memerintahkan seluruh sahabat untuk turut berpuasa, menjadikan ibadah ini sebagai sunnah yang dianjurkan bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
Sebagaimana laut terbelah bagi Musa, kapal keselamatan berlabuh bagi Nuh, dan surga menjadi balasan mulia bagi Husain, setiap mukmin diperintahkan untuk senantiasa optimis terhadap janji Allah. Hari Asyura bukan sekadar peringatan sejarah — ia adalah cermin iman yang memantulkan keyakinan abadi bahwa cahaya kebenaran tidak akan pernah padam oleh kegelapan kezaliman.
Sumber: Yaqeen Institute, "What Happened on the Day of Ashura? Contextualizing the Events and Meaning of Ashura", diposting 15 Juli 2024, diakses 15 Juni 2026.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu Hari Asyura dan kapan diperingati?
Hari Asyura adalah hari yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Muharram sendiri merupakan bulan pertama tahun Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam. Hari Asyura diperingati setiap tahun oleh umat Islam di seluruh dunia dengan ibadah puasa dan refleksi atas berbagai peristiwa bersejarah yang terkait dengannya.
Peristiwa apa saja yang dikaitkan dengan Hari Asyura?
Tiga peristiwa utama yang paling sering dikaitkan dengan Hari Asyura adalah: (1) Terbelahnya laut dan selamatnya Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Fir'aun; (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS di Bukit Judi setelah banjir besar — meski riwayat ini dinilai lemah oleh para ulama; dan (3) Gugurnya Sayyidina Husain bin Ali di Karbala pada tahun 61 Hijriah.
Mengapa Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada Hari Asyura?
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura untuk mengenang kemenangan Nabi Musa atas Fir'aun. Rasulullah SAW kemudian menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak merayakan kemenangan Musa, seraya bersabda: 'Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' (HR. al-Bukhari). Beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.
Apa hikmah terbesar dari peristiwa-peristiwa Hari Asyura?
Hikmah terbesar dari peristiwa-peristiwa Hari Asyura adalah bahwa kebenaran pada akhirnya selalu menang atas kezaliman, meskipun prosesnya bisa memakan waktu yang sangat panjang. Kemenangan dalam Islam tidak selalu berarti kemenangan fisik atau militer, tetapi bisa berupa keteguhan iman, kesabaran, hingga kemuliaan syahid di sisi Allah.
Siapakah Husain bin Ali dan apa hubungannya dengan Asyura?
Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma adalah cucu Rasulullah SAW dari putrinya Fatimah dan menantunya Ali bin Abi Thalib. Beliau merupakan salah satu anggota keluarga Nabi yang paling dicintai, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 'Hasan dan Husain adalah dua bunga kesayanganku di dunia.' (HR. al-Bukhari). Pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah, Husain gugur sebagai syahid di padang Karbala, menjadikan tanggal tersebut sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam kalender Islam.